FG 5, Lampung Adventure 01-03 Mei 2004

setelah dilemburin sampe jam 4 pagi, karena hari ini deadline Suara Pembaruan …. akhirnya reportase gw kelar juga… silakan dibaca, terutama buat yang gak ikut…. biar tambah ngecesss…. hehehe…

KUDA KLUB
FAMILY GATHERING V
LAPORAN LAMPUNG ADVENTURE

Hari Sabtu tanggal 1 Mei 2004
Jam 06.00 pagi di daerah sekitar Puri Mall, dekat gedung CNI, mulai tampak kesibukan dengan berdatangannya satu persatu mobil-mobil peserta LAMPUNG ADVENTURE – KUDA-KLUB FAMILY GATHERING V (selanjutnya disingkat menjadi FAMGATH LA). Suasana begitu meriah dengan dipasangnya 50 buah umbul-umbul Djarum yang dipasang di sepanjang jalan menuju lokasi start, ditambah lagi sebuah tenda serta satu buah spanduk Kuda-Klub dan satu buah spanduk Antangin JRG.

Menjelang jam 07.00, para peserta sudah berdatangan semua, termasuk anggota Kuda-Klub dari Bandung dan Bogor, yaitu terdiri dari: 28 mobil Kuda, 1 mobil Kijang (Pak Budi – wakil sponsor dari KDK) serta tidak ketinggalan 5 mobil kuno dan 1 mobil Panther, yang me- rupakan wakil dari Persatuan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), yang ikut me- meriahkan acara FAMGATH LA. Semua mobil peserta sangat meriah dengan atribut-atribut stiker dari 8 sponsor yang terdiri dari: KDK, Danamon, Djarum, Indofood, Antagin JRG, Goodyear, Pasnew dan Berlian Mulya Persada. Sedangkan jumlah peserta adalah 135 orang. Selain itu, hadir juga beberapa anggota Kuda-Klub (KK) yang ingin ikut mengantarkan keberangkatan para peserta FAMGATH LA, seperti: Iwan SA, Renaldi, Endang, Ochie, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Tampak juga hadir Bapak Hendrik, Direktur Utama PT KDK Indonesia yang akan mengibarkan bendera start.

Jam 07.30, bendera start dikibarkan dan dengan disertai pemberian gratis 2 bungkus rokok Djarum dari 2 SPG cantik, maka satu per satu peserta berangkat konvoi menuju Merak sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Rombongan masuk jalan tol Tangerang-Merak lewat pintu tol depan Puri Mall. Rombongan mobil Kuda dan beberapa mobil kuno yang berstiker mulai memeriahkan jalan tol Tangerang-Merak dan menarik perhatian mobil-mobil lain yang kebetulan sedang melewati jalan tol Tangerang Merak.

Walaupun sudah di-briefing sebelumnya bahwa kecepatan konvoi tidak lebih dari 100 km/jam, adu ketangguhan mesin tetap tak dapat dihindarkan, baik antara Kuda sendiri maupun dengan mobil kuno. Di sekitar pintu tol Cikupa, salah satu peserta, yaitu Effendi, terkena musibah kaca depan pecah. Bukannya takut, mbak Nish (istri Effendi) malah tetap berkeras ingin tetap ikut, karena tidak mau kehilangan kesempatan mengikuti Famgath LA yang baru pertama kali diikutinya. Segera Thomas berinisiatif menghubungi Sam, salah satu anggota KK yang khusus menjual kaca mobil, dan untungnya Sam menyanggupi untuk mengganti kaca depan mobil Effendi hari itu juga. Dia akan memasang kaca baru tersebut di rumah Effendi di Kelapa Gading. Akhirnya Effendi dan keluarga pulang kembali ke rumah, sedangkan rombongan lainnya melanjutkan perjalanan ke Merak.

Jam 10.00, rombongan akhirnya sampai di pelabuhan Merak. Setelah administrasi pembayaran selesai, maka rombongan satu per satu mulai memasuki kapal ferry, dan jam 10.30 kapal ferry bergerak menuju pelabuhan Bakauni. Selama di dalam kapal ferry tampak anak-anak bermain dengan senangnya, sedangkan bapak-bapak dan ibu-ibu saling ngobrol dan bercanda, sehingga perjalanan kapal ferry selama 2 jam tidak terasa. Ketika panitia sedang berdiskusi di atas kapal ferry, tiba-tiba hand-phone Net berbunyi. Ternyata telepon dari Henry K yang menyatakan bahwa sakit asam uratnya sudah mulai sembuh, sehingga dia jadi ikut Famgath LA dan akan menyusul langsung ke cottage Laguna Helau. Panitia bersorak gembira mendengar kabar baik ini, dan menginformasikan ke Henry K bahwa dia mungkin akan ketemu Effendi dan Donald yang juga akan menyusul ke Laguna Helau.

Jam 12.30 kapal ferry berlabuh di pelabuhan Bakauni, dan satu per satu mobil peserta keluar dari kapal ferry yang langsung melanjutkan konvoi ke kota Bandar Lampung untuk makan siang di restoran Raja Kuring. Walaupun ada beberapa mobil yang sempat nyasar, akhirnya semua rombongan tiba di Raja Kuring jam 14.30 dan disambut oleh Indra dan keluarga yang sudah menunggu di sana dari jam 12.00. Berhubung sudah sangat lapar, tanpa basa-basi lagi, semua peserta menghabiskan semua makanan yang sudah tersedia tanpa tersisa.

Jam 15.30 rombongan melanjutkan perjalanan konvoi keliling kota dengan tujuan ke Yen Yen untuk membeli oleh-oleh. Rombongan tiba di Yen Yen jam 16.00, dan di sepanjang jalan tersebut penuh dengan mobil rombongan yang parkir, yang sudah barang tentu sangat menarik perhatian orang. Apalagi melihat rombongan ibu-ibu KK yang menyerbu Yen Yen dan membeli oleh-oleh dengan kalapnya. Sedangkan bapak-bapak KK, sambil menjaga anak- anaknya, menunggu di luar dengan harap-harap cemas, karena kuatir uangnya tidak cukup untuk membayar oleh-oleh yang dibeli istrinya. Ketika menunggu ibu-ibu KK belanja, tiba-tiba Henry K menelpon Thomas dan mengabarkan bahwa mobilnya tidak bisa di start, walaupun sudah diganti dengan accu baru. Melihat begitu banyak hambatan yang dihadapi Henry K, panitia pun menyarankan agar Henry K tidak usah memaksakan keinginannya untuk menyusul rombongan, toh masih ada kesempatan di acara Famgath berikutnya. Selain itu, Effendi juga menelpon Willy yang mengabarkan bahwa kaca baru sudah terpasang dan dia beserta keluarga sudah bersiap-siap berangkat menyusul ke Lampung. Jam 16.45, ibu-ibu KK akhirnya selesai memborong oleh-oleh, tampak bapak-bapak KK kerepotan membawa bungkusan besar di kedua tangannya.

Rombongan kembali konvoi keliling kota dan berhenti parkir di lapangan Saburai (Parkit-nya Lampung) yang penuh dengan orang-orang yang sedang menonton latihan Road Race. Setelah rombongan menonton sebentar, maka jam 17.45 rombongan melanjutkan konvoi menuju Diggers Hollywood. Ketika rombongan melewati kerumunan orang di lapangan Saburai, perhatian orang-orang yang tadinya menonton latihan Road Race beralih melihat rombongan Famgath LA, rombongan merasa bangga menjadi pusat perhatian orang-orang.

Jam 18.00 rombongan tiba di Diggers Hollywood untuk makan malam. Setibanya di sana, para peserta menikmati pemandangan kota yang indah beserta laut yang membiru, anak-anak pun menikmati tempat tersebut dengan berlari-larian kesana-kemari. Walaupun perut masih berasa kenyang, para peserta tetap dengan semangat menyerbu sate, pempek dan tekwan yang tersedia di sana, apalagi setelah Net menginformasikan bahwa tidak ada lagi makanan malam di cottage.

Jam 19.00 rombongan melanjutkan perjalanan menuju cottage Laguna Helau. Ketika rombongan keluar dari Diggers Hollywood dan harus berputar memotong jalan, sempat membuat kemacetan. Sekali lagi rombongan telah menarik perhatian orang di sepanjang jalan menuju Cottage Laguna Helau. Setelah sempat mampir sebentar mengisi bensin di 2 tempat SBPU di jalan lintas Sumatera, dan setelah melewati jalanan off-road sejauh +/- 3 km, rombongan akhirnya sampai di cottage Laguna Helau jam 21.00. Para peserta sibuk mencari cottagenya masing-masing dan menurunkan barang bawaannya. Setelah selesai beberes dan mandi, karena sudah berasa lelah dengan perjalanan sehari penuh, maka para peserta langsung tertidur lelap di kamarnya masing-masing dengan diiringi suara deburan ombak nan syahdu. Sedangkan panitia masih sibuk berdiskusi mengevaluasi perjalanan hari ini dan menyusun rencana perjalanan esok harinya.

Jam 22.00, dengan bantuan guidance dari Edwin dan Willy lewat handphone-nya, Effendi dan Donald beserta keluarganya masing-masing tiba di cottage Laguna Helau dalam waktu yang hampir bersamaan

Hari Minggu tanggal 2 Mei 2004
Jam 05.30, sayup-sayup terdengar suara anak-anak yang sedang bermain di pantai. Satu per satu para peserta bangun dan keluar dari cottagenya dengan bermalas-malasan untuk menikmati segarnya udara pagi di pantai. Tampak anak-anak asyik bermain pasir di pantai ditemani ibunya, sedangkan sebagian bapak-bapak tampak sedang duduk-duduk melamun di pinggir pantai menikmati deburan ombak, sebagian lainnya tampak berjalan-jalan menyusuri pantai. Tiba-tiba tampak 4 orang bapak-bapak PPMKI yang mulai berenang di laut, menikmati gulungan ombak yang cukup besar. Melihat keasyikan bapak-bapak PPMKI berenang di laut, beberapa bapak-bapak KK tidak tahan dan akhirnya ikut bergabung berenang di laut. Mereka semua sudah lupa dengan kesumpekan kota Jakarta.

Jam 7.00, para peserta bersiap-siap mandi dan makan pagi, karena rencananya jam 8.00 rombongan akan touring ke Way Kambas. Jam 7.30 Edwin dan Erick berangkat duluan ke Bandar Lampung untuk mengambil nasi kotak buat makan siang di Way Kambas. Jam 8.00, Hermanto dan Jalal pamit pulang ke Jakarta duluan, berhubung hari Senin masih ada urusan. Jam 8.15, akhirnya rombongan KK berangkat konvoi ke Way Kambas, sedangkan rombongan PPMKI pergi ke kota Bandar Lampung untuk belanja spare part. Para peserta rombongan KK sangat menikmati konvoi ke Way Kambas, sehingga adu ketangguhan mesin tak terhindarkan lagi. Selepas dari jalan Lintas Sumatera, tak lama setelah rombongan berbelok ke kanan menuju Sri Bawono, terjadi sedikit insiden kecil, dimana mobil Jito bersenggolan dengan motor ojek yang tiba-tiba nyelonong, sehingga kecelakaan tak dapat terhindarkan. Walaupun kecelakaannya tidak terlau parah, susana cukup mencekam, karena penduduk dan tukang ojek berdatangan ingin melihat kecelakaan yang terjadi. Rombongan KK, mau tidak mau jadi ikut berhenti, sedangkan sebagian rombongan KK yang sudah lewat duluan dan mendengar kabar dari radio FRS bahwa Jito menabrak motor, spontan berbalik arah ke lokasi kejadian. Untungnya kecelakaan tersebut tidak terlalu parah dan penduduk sekitar malah menyalahkan pengemudi ojek yang nyelonong menabrak mobil Jito. Apalagi setelah Edi Pur turun tangan mengintrogasi pengemudi ojek dengan galaknya, lebih galak dari polisi, sehingga si pengemudi ojek jadi merasa bersalah. Ketika polisi datang, malahan si pengemudi ojek kabur ketakutan, usut punya usut, ternyata dia tidak memiliki SIM. Karena tidak ada masalah lagi, maka rombongan KK melanjutkan perjalanan dengan menyisakan kenang- kenangan berupa pintu depan kanan mobil Jito yang sedikit penyok.

Tepat jam 12.00 akhirnya rombongan tiba di Way Kambas. Sampai disana, para peserta langsung menyantap nasi kotak yang nikmatnya luar biasa. Selesai makan siang, rombongan menikmati pertunjukan gajah yang diadakan khusus untuk rombongan KK. Setelah foto-foto sebentar, tepat jam 15.00 rombongan pulang kembali ke cottage Laguna Helau. Gara-gara mau mengejar sunset, akhirnya mobil dipacu kencang.

Ternyata rombongan kurang beruntung, karena begitu sampai di cottage jam 18.00, cuaca mendung dan gelap sehingga tidak ada sunset. Walaupun sedikit kecewa, para peserta tetap gembira, karena sudah menikmati asyiknya ber konvoi-ria. Akhirnya para peserta mandi untuk bersiap-siap makan malam dan mengikuti acara selanjutnya. Malam itu rombongan PPMKI dan Fauzi pulang duluan ke Jakarta.

Jam 19.00, para peserta mulai menikmati makan malam, setelah itu dilanjutkan dengan presentasi dari KDK yang diakhiri dengan quiz yang berhadiah satu buah desk fan yang dimenangkan oleh Donald, satu buah ceiling fan yang dimenangkan oleh Kurniawan dan satu buah exhaust fan yang dimenangkan oleh ibu Jimmy. Setelah presentasi dan quiz dari KDK selesai, maka dilanjutkan dengan acara pembagian door prize dari para sponsor. Uniknya, semua peserta mendapatkan door prize, berhubung banyaknya hadiah yang diberikan oleh para sponsor. Acara selanjutnya adalah lelang 4 buah ban mobil dari Good Year, yang dimenangkan oleh Helmi dengan harga Rp 1.250.000. Setelah itu, sambil menikmati api unggun, dilanjutkan dengan acara permainan limbo untuk mem-perebutkan piala bergilir KK, dan dimenangkan oleh Erick si manusia karet. Jam 22.30 para peserta menikmati kembali kambing guling dan ikan bakar, sambil berkaraoke ria. Jam 24.00, para peserta sudah lelah dan kembali ke cottage-nya masing-masing untuk istirahat.

Hari Senin tanggal 3 Mei 2004

Jam 06.00, sayup-sayup terdengar lagi suara anak-anak yang sedang bermain di pantai. Kembali tampak satu per satu bangun dan keluar dari cottage-nya untuk menikmati segarnya udara pagi di pantai. Anak-anak dengan ditemani ibunya kembali bermain pasir di pantai dengan asyiknya, sedangkan sebagian bapak-bapak tampak sedang duduk-duduk melamun di pinggir pantai menikmati deburan ombak, sebagian lainnya tampak berjalan-jalan menyusuri pantai dan sebagian lainnya lagi berenang di laut, menikmati gulungan ombak yang cukup besar. Ada juga yang bermain bola di pantai, walaupun cuma sebentar karena nafasnya tidak kuat. Mereka semua berusaha menikmati hari terakhir di Laguna Helau sepuasnya, sebelum kembali dengan kesumpekan kota Jakarta.

Sehingga makan pagi pun hampir dilupakan, karena sampai jam 9.00 masih terhidang cukup banyak. Ketika sebagian orang sedang sarapan, tiba-tiba terdengar percakapan di radio FRS:

Erick: “Chris, Willy monitor.”
Willy: “Ya, ada apa Rick?”
Erick: “Tolong bilangin air mati, gue lagi nanggung mandi nih.”
Willy segera mencari petugas cottage dan menanyakan perihal air mati. Dengan entengnya si petugas menjawab bahwa setiap jam 9.00 pagi genset dimatikan untuk istirahat selama 1 jam. Tanpa bisa berkata apa-apa Willy menginformasikan berita baik tersebut ke Erick lewat radio FRS:

Willy: “Rick, kata petugasnya, genset memang lagi dimatiin selama 1 jam untuk maintenance”
Erick: “Lha. terus mandi gue jadi bagaimana dong?”
Willy: “Hmmm. Pake air Aqua aja, kan masih ada dua gallon full”
Erick: ” Ok deh.”
Dan ternyata tragedi mandi di pagi hari itu tidak hanya dialami oleh Erick saja, tetapi berhubung sifatnya pribadi tidak ada yang bercerita. Akhirnya, sambil menunggu listrik nyala kembali, bapak-bapak KK saling ngobrol di aula, sedangkan ibu-ibu KK mulai membereskan barang-barang bawaan.

Jam 10.00, para peserta mulai mandi dan siap-siap menaikan barang bawaan ke mobil. Setelah repot mengatur mobil untuk sesi pemotretan, akhirnya jam 11.00 rombongan check- out dari cottage menuju ke arah panjang untuk makan siang di restoran Begadang IV dan konvoi gaya KK kembali di gelar. Sedangkan Kurniawan, Din-din, Helmi dan Budi-KDK pulang duluan ke Jakarta. Tepat jam 12.30, rombongan tiba di Begadang IV dan langsung makan dengan lahapnya. Jam 13.30 rombongan siap-siap berangkat konvoi menuju pelabuhan Bakauni. Tetapi Donald dan Jimmy tidak ikut rombongan, karena masih ingin menginap 1 malam lagi di Bandar Lampung, sedangkan Chris mau mampir dulu ke Bandar Lampung untuk nambah beli oleh-oleh dan kalau keburu akan mengejar rombongan di pelabuhan Bakauni. Jam 15.30 rombongan tiba di pelabuhan Bakauni dan Edwin menelpon Chris:

Edwin: “Chris. Elo ada dimana ?
Chris: “Sudah sampai di Kalianda”
Edwin: “Wah sudah dekat dong. Kalo keburu, kita coba tunggu”
Chris: “Ok deh. Thanks bro”
Tanpa basa-basi segera Chris memacu mobilnya lebih kencang lagi ke Bakauni. Jam 15.50, Edwin menelpon Chris lagi:

Edwin: “Chris. Elo ada dimana, kita sudah mulai naik kapal nih”
Chris: “Gue sudah melihat laut dan kapal ferry”
Edwin: “Ok. mudah-mudahan keburu, nanti elo langsung menuju dermaga 3 yah”
Chris: “Siap Boss!!”

Chris segera memacu mobilnya menuju loket pembayaran, dan langsung membayar sebesar Rp 127.500,- walaupun terasa punglinya kegedean, karena tidak ada waktu untuk berdebat lagi. Dengan panduan melalui Radio FRS, akhirnya Chris sampai di dermaga 3 dan tampak Thomas dan kawan-kawan melambai-lambaikan tangannya. Jam 16.00, akhirnya mobil Chris dengan selamat masuk ke dalam lambung kapal ferry, bergabung kembali dengan rombongan KK. Sepanjang perjalanan di kapal ferry, para peserta tak habis-habisnya membicarakan pengalaman 2 malam 3 hari yang tak terlupakan. Pembagian produk Antangin secara cuma-cuma kepada penumpang ferry tak lupa dilakukan. Gerombolan KK, sekali lagi menarik perhatian penumpang ferry

Jam 18.30, kapal tiba di pelabuhan Merak dan rombongan sudah bersiap-siap di mobilnya masing-masing, lalu terdengar instruksi dari Erick melalui radio FRS: “Perhatian, perhatian… kita ngumpul terakhir di pom bensin Ciujung, lalu bubar jalan”. Kembali para joki kuda memacu kudanya di jalan tol menuju pom bensin Ciujung. Sampai di pom bensin Ciujung, setelah beberapa mobil mengisi bensin dan sekring lampu mobil Edwin diganti, kembali rombongan berkumpul untuk berpamitan dengan rasa haru. Satu kalimat yang selalu diucapkan: “Sampai ketemu di Famgath berikutnya!!”

Setelah itu rombongan bubar jalan, semua peserta terdiam menahan haru. Sampai di sekitar pintu tol Karang Tengah hujan turun dengan lebatnya, seakan mewakili perasaan para peserta saat itu. Selamat datang Jakarta!!!

—We are ONE—

273 Total Views 1 Views Today
Bookmark the permalink.

Comments are closed.